“Confide” sebuah kata dari bahasa inggris yang mungkin tidak bisa diterjemahkan secara tepat ke dalam bahasa Indonesia atau bahasa- bahasa lain di Indonesia. Kata ini berarti antara lain:
- membuka hati kepada seseorang
- mengeluarkan segala beban di hati kepada seseorang
- menyatakan dengan tanpa keraguan
- menyerahkan diri sepenuhnya pada perlindungan/ penjagaan seseorang
Sebuah kata yang sangat kuat. Apa jadinya jika seseorang bertanya kapada kita, ‘confide in me’ jika arti dari confide adalah seperti di atas? Kata tersebut mengandung makna sebuah pertalian dua arah, sebuah hubungan. Bukan seperti hubungan seorang tuan pada hambanya, tapi lebih seperti seorang sahabat.
Apa yang membuat orang bisa bersahabat dengan yang lain? Karena mereka bisa saling mempercayai, bisa membuka diri dan menyatakan seluruh kebenaran tentang dirinya pada sahabatnya tersebut tanpa ada yang dikhawatirkan. Kenapa? Karena sahabat tersebut adalah sahabat yang tidak sekedar mendengar, tetapi mau mendengarkan.
Apakah seseorang mau membuka diri pada orang yang suka memutus pembicaraannya? Atau yang setiap kali selalu memberi nasehat? Seolah kita selalu salah (meski pada kenyataannya kita memang salah). Atau pada seseorang yang selalu membicarakan dirinya saja? Seseorang akan mau membuka dirinya pada orang lain yang ia anggap mau mendengarkannya dengan baik, dan benar- benar mau mengerti sudut pandangnya. Seorang pribadi yang dapat menjadi sahabat.
Bagaimana jika pribadi tersebut adalah Allah? Seringkali kita mendengar pepatah ini, “Manusia berencana, tetapi Allah yang menentukan”. Seolah Allah bagai diktator yang mempunyai hak veto terhadap seluruh rencana yang kita buat. Sehingga itu menjadi alasan bagi kita untuk “pasrah” terhadap kehendakNya. Atau sebaliknya, seseorang menjadi skeptik dan putus asa karena Ia tidak mengerti kehendak Allah dan seolah Allah pun tidak mau mengerti dirinya, seperti yang dinyatakan dalam sebuah lagu:
I sit and talk to GodAnd he just laughs at my plansMy head speaks a languageI don't understand
(Feel, Robbie Williams)
Sejak awal penciptaan, Allah selalu menempatkan diri-Nya sebagai sahabat bagi manusia. Ia datang menemani Adam berjalan-jalan di taman, berbincang dengannya.
Ia mau “bertarung” dengan Yakub, sampai- sampai Yakub terheran- heran mengapa Allah membiarkan Ia hidup.
Aku telah melihat Allah berhadapan muka, tetapi nyawaku tertolong (Kejadian 32:30)
Ia diam saja ketika Ayub menumpahkan segala kepedihan hatinya dan ketidakmengertiannya, sementara sahabat- sahabat Ayub justru menghardiknya. Ia diam mendengarkan sampai Ayub selesai berkeluh kesah, setelah itu barulah Ia berbicara. Ia menjawab Ayub bagai laki-laki dengan laki-laki, tidak serta merta menghukumnya seperti layaknya seorang dictator jika ia ditentang.
Maka dari dalam badai TUHAN menjawab Ayub:
“Siapakah dia yang menggelapkan keputusan dengan perkataan- perkataan yang tidak berpengetahuan?
Bersiaplah engkau sebagai laki-laki!
Aku mau menanyai engkau, supaya engkau memberitahu Aku”
(Ayub 38: 1-3)
Allah berdialog dengan Ayub. Meski kitab ini diperkirakan ditulis dengan gaya metaphor, tetapi setidaknya Alkitab mencatat bahwa manusia dapat berhadapan muka dengan muka dengan Allah dan menyatakan seluruh isi hatinya tanpa tedeng aling-aling. Tentu saja Allah menghardik ketidak mengertian manusia ini, tapi Ia mau mendengarkan dan memahaminya, bagai seorang sahabat.
Yesus, Rupa dan Gambar Allah yang sempurna, tak pernah sekalipun Ia mengabaikan orang. Ia selalu menerima siapa saja yang datang kepada-Nya, mendengarkan mereka, memperhatikan kebutuhan mereka. Dan ketika Ia bangkit, hal itu tidak berubah. Ia menyertai kedua muridNya berjalan ke Emaus mendengarkan diskusi kedua murid tersebut dengan sabar sebelum akhirnya menjelaskan semuanya kepada mereka dan membuka mata mereka.
Yesus adalah Firman Allah, dan Ia bukan Firman yang berbicara satu arah, Ia adalah pribadi Allah sendiri yang juga mendengarkan manusia, menemani “sahabat-sahabat”-Nya dalam perjalanan mereka, bersabar akan ketidak mengertian mereka, mendengarkan mereka, meski mereka tidak menyadarinya. (Lukas 24:13-35) Yesus adalah Allah yang berkomunikasi dengan manusia, Allah yang mau jadi sahabat manusia.
Pemazmur menceritakan pemahamannya tentang Allah yang mendengarkan ini,
Dia yang menanamkan telinga,
Masakan tidak mendengar?
Dia yang membentuk mata,
Masakan tidak memandang?
( Mazmur 94:9)
Confide in Him!
Altrerosje Asri
April 15, 2007
Monday, April 16, 2007
Subscribe to:
Comments (Atom)